Sampai Akhir Hayat

Puisi oleh Breaking Reza

Reza Fahlevi
3 min readDec 23, 2024
Photo by Milada Vigerova on Unsplash

Matamu melukis harapan

Seperti membuka pintu asa yang telah kusam dan berdebu

Aku merasa ada sedikit serpihan rindu untuk kembali

Kembali merasakan diriku yang dulu

.

Senyumanmu berpuisi semu

Aku seperti terbawa arus dari syair-syair syahdu

Memberhentikanku di bawah sebuah pohon yang teduh

Mengistirahatkan jiwa yang telah tersesat

Sambil menyimak apa yang kau hasratkan

.

Di atas rerumputan ini

Batinku bediri sendirian

Setelah bertarung dengan diriku sendiri selama bertahun-tahun lamanya

Kini kupikir, aku sudah cukup lelah

Lelah menyalahkan keadaan

.

Hari terus berganti

Dan aku melewatinya dengan sekumpulan catatan hitam

Kau bilang aku masih punya makna dan warna

Tapi, entah kenapa wujudku masih tetap terasa kelabu

.

Aku mampu menyeberangi lautan sendirian

Atau mendaki puncak gunung tertinggi

Berada seorang diri di tengah hutan belantara berkabut panjang

Tanpa takut sedikit pun

Semua karna … cahaya batinmu menyinari redupnya jiwaku

.

Kau memang tak banyak bicara

Juga tak banyak mengutarakan mimpi

Kau hanya menjalani hari seperti biasanya

Karna kau paham bahwa tak ada yang bisa dilakukan

Kecuali hanya terus bergerak

.

Aku yang terombang ambing

Seperti angin membawaku tersesat entah ke mana

Namun di titik jauhnya keberadaanku dari-Nya

Ia tetap menuntunku melalui sosokmu yang tak terlalu kukenali

.

Dan kau tau?

Banyak dosa tertulis di dalam buku harian ini

Yang jika kau baca … mungkin kau akan menitikkan air mata

Namun … aku juga tak bisa mengelak diri

Aku … tidak seperti yang kau kenal selama ini

Akan tetapi … kau masih saja tersenyum dan sudi menggenggam jemari hatiku

Seolah-olah kau ingin berkata, “aku selamanya milikmu.”

.

Entah bagaimana nanti akhir dari kehidupanku

Aku mengabaikan segala bentuk petuah suci

Kukhianati mereka yang penuh kasih sayang

Semua karna egoku yang membakar kebaikan hati

Hingga aku sama sekali tak bisa lagi merasa belas kasih

Sanubariku membeku dan tuli

.

Kau selalu bilang

Aku pasti akan bertemu dengan diriku yang dulu

Bahkan setelah bertahun-tahun berkelana

Mencari sosok yang hilang

Aku tak kunjung menemukannya

Tapi, dalam bentuk kepasrahan ini … kau terus memerhatikanku dengan penuh harapan

.

Kau … mungkin punya impian sejati

Kau seolah-olah percaya bahwa aku tak semestinya hidup seperti ini

Aku yang linglung dalam seribu pertanyaan

Hanya mampu menjawabmu dengan anggukan pasrah

.

Kini telah tiba diriku di penghujung tahun

Hari pun semakin redup

Aku masih belum juga menemukan jati diri yang sempat hilang

Justru … aku malah merasa semakin jauh dari-Nya

Lantas coba katakan … sejujur-jujurnya ..

“apa kau benci terhadapku yang telah berubah menjadi lelaki jahat dan pengecut ini? Atau … kau masih sudi menemani perjalananku sampai nanti aku benar-benar kembali menjadi diriku sendiri …? seperti sedia kala?”

Aku tau kau tetap takkan menjawabnya kecuali hanya mengumbar senyuman

Senyuman yang cukup indah hingga mampu memadamkan api di setiap sudut hatiku yang berharap

.

Namun demikian

Meski ada percikan-percikan api iblis yang kini telah bermain peran di dalam jiwaku

Aku tak ingin berhenti mengucapkat kalimat suci itu

“Bismillahir-rahmaanir-rahiim”

Sampai nanti akhir hayatku benar-benar tiba

--

--

Reza Fahlevi
Reza Fahlevi

Responses (1)