— —

Mencari cahaya, mencari kebenaran. Berkelok-kelok ku lalui perjalanan, beribu rintangan mencoba ku luruskan. Tepat di sebuah persimpangan, mulai meragu tak bersebab, oleh karna begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Ku coba merealistiskan semua yang sulit ku mengerti. …


Epilog

— —

Sebuah novelet yang menceritakan tentang seorang laki-laki bernama Luca. Ia seorang pembunuh psikopat. Semua itu terjadi oleh sebab Luca sempat mengalami depresi hebat di masa kecilnya. Terlahir dengan sosok yang sangat sensitif, ia adalah orang yang tak sanggup mendengar ocehan-ocehan, terlebih lagi jika ocehan itu terlalu tajam.

Pertengkaran…


— —

Rintikannya membawa ku termenung
akan bayanganmu
Elok rasanya...
Ketika ku lukiskan di dalam kepalaku
Indah terasa...
Saat ku imajinasikan sosokmu

Dan hujan terus membawa rindu
Merindukan engkau yang ku sebut dalam doa
Teringat kenangan yang tertulis dalam kisah buku harian
Kita bersama

Duhai Adinda
Yang tersebut di dalam hati
Terlantun…


— —

Kau selalu ada di saat ku butuh hiburan dalam lamunan

Kau selalu ada saat aku tersesat

Merangkai sajak-sajak puisi

selalu sigap saat aku buntu

memberi wejangan untuk ku selesaikan bait-baitnya

.

Kau sungguh mengetahui diriku

yang terkadang kehabisan cara dalam berkarya

Kau datang

dan duduk di sebelahku

.


— —

Kau itu terlalu renta untuk mengarungi samudra. Sudahlah, jangan dipaksakan.

Kau itu terlalu renta untuk mengangkut beban, menepilah...

Biar ku ceritakan padamu sebuah cerita yang tak pernah kau duga-duga.

Dengarlah dengan seksama, barangkali kau suka.

"Terhubung rasa di antara dua. Mengkhianati bayangan yang hendak bercinta. Sungguh memilukan"

"Dia…


— —

Ku coba tetap membumi, di atas pijakan yang sama. Saat mereka menarikku terlampau ke atas, aku akan jatuh lagi…

Ku coba tetap membumi, berbagai ungkapan nasehat memasuki gendang teling. Memulihkan segala bentuk kesakitan. Aku dapat melampaui segala yang menjadi mimpi. Tapi, akan tetap jatuh…

Aku… setidaknya harus sadar…


Foto: pexels.com

"Aku sudah mencoba... berulang kali... berulang kali... ber-ulang-ulang kali. Tolong, jangan kotori aku. Ku mohon..."

Pukul 8 pagi...

“Ginny... Ginny...”

Tok tok tok

Mama Ginny mengetuk-ngetuk pintu kamar anak gadisnya yang sedari kemarin maghrib mengurung diri di sana. Sepulangnya dari sekolah dengan berurai air mata, bungkam dan tidak berkata apa-apa…


— —

Puisi tercipta di balik luluhnya air mata yang menitik. Tertulis untuk menuangkan segala bentuk luapan emosi… yang tak dapat ku utarakan, yang tak bisa ku ungkapkan.

Mulut membisu di saat hati menulis. Jiwa yang remuk perlahan kembali terlahir. …


— —

Hilang jiwa yang tentram
Lepas kendali dari dalam
Kehidupan yang penuh amarah
Mereka begejolak untuk berdarah

Menciptakan maha karya
Jeritan berhalusinasi
Memainkan irama yang memekakkan
Malam berdetik hingga pukul 12
Tak ada satu pun yang berani...

Merampok para pembicara
Lantang suaranya
Terlalu percaya diri
Mereka merampas keperkasaan
Menjatuhkan…


— —

Lonely

You’re getting crush

Alone

You are sitting

Being a man

Being silence

.

Writing

An art which was taken from

The beauty…

You were amazed — fascinated

That her elegance…

Hypnotizing

.

Deep within

Such of emotion are hidden

You just hide it

When you know…

You…

Reza Fahlevi

Writing about short story, poem and perspective.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store