Sejak tadi pagi aku mengajar seorang anak laki-laki. Usianya masih setingkat SD, tapi untuk segi kemampuan memahami pelajaran, dia termasuk cepat di kalangannya. Tapi ya begitu, namanya anak-anak sudah pasti tidak bisa terlalu serius belajar. Ada saja tingkahnya yang sesekali lalai, apalagi jika ada mainan di dekatnya.

Kesulitan mengajar anak…

— —

Petang yang kau cari keindahannya tak hadir hari ini. Terkadang berharap terlalu banyak hanya meninggalkan ketidakpahaman yang menyesakkan. Kau bertanya mengapa… tapi, sebaiknya jangan.

Memandangi langit redup, kau mulai bergumam yang tak perlu. Cahaya yang kau anggap datang dari surga, apakah benci dikau saat ia terlihat agak mengkhianatimu?

— —

Kadangkala, ia menagis sebab sudah tak tahan apa yang menyerang hati secara berlebihan.

Membabi buta gejolak-gejolak memberi kesan perih dalam balutan penderitaan, pada akhirnya hanya November yang menitipkan kata-kata penyejuk melalui butiran gerimis syahdu.

Ada beberapa fase kebahagian, secara bertahap bergantian menyapa pagi. …

Tidakkah kau lelah telah membenciku bertahun-tahun. Menaruk diri dalam bara api yang menyala, kau mencoba melupakan segalanya untuk berdamai… berdamai dengan dirimu sendiri.

Bukankah kita lelaki dan wanita yang sedang mencari jati diri? Membentuk karakter sesuai tujuan hidup yang berpedoman. …

I never told this something hidden. And we act as human being, as always what we do today, tomorrow or even yesterday. Smiling and talking sometimes… about the unnecessary. But, you don’t know…

Once I walked passed through, to make me feel and realize, there was only you to play…

Salah Satu Kisah dari Detektif Jimmy

Foto oleh Pixabay dari pexels.com

Cerpen

— —

Kriiiiiing kriiiiing kriiiing

Suara itu terlalu mengganggu waktuku tidur. Spontan tangan kanan meraba-raba kasur tapi tak ada apapun kecuali yang ku dapati hanya bantal guling.

Kriiiiiiing…

Sialan, semakin lama perasaan semakin besar saja suaranya. Sontak ku paksa buka mata, masih mencoba berdamai dengan suasana ngantuk. Aku bangkit…

— —

The shaking knees are witness, your fear face is the truth, that smile means empty. And the way how you act… all alone.

You begin to cry, express the emotion in front of the mirror. And looking yourself there, the pain is too deep suffering from the inside…

I’ve been in trouble, I can’t see the line and I can’t feel the path. This drags me to walk and fall… falling under.

I’ve blinded within darkness. It takes me away to be who I am, takes me away to abandon necessary.

And I don’t know why I do…

— —

Kenapa kau terus mengumbar pesonamu seperti itu padaku? Aku menjadi seperti candu untuk terus mencuri kesempatan menatapmu.

Kenapa kau seakan menyembunyikan sesuatu di balik diamnya sikapmu, aku semakin bertanya-tanya isi di balik hatimu.

Dan aku juga tak pernah memasuki ruang keseriusan; memulai percakapan intim dan berbagi perasaanku padamu…

Termenung lagi, membayangi wajahmu di bawah rintikan hujan ini.

Terlampiaskan lagi, emosi batin dalam balutan hawa kegelisahan. Aku mencoba baikan dengan diri sendiri.

Meski dikau masih belum mendengar ungkapan ini, mungkin waktu belum tiba, atau angin belum juga membawa suaraku padamu.

Dan termenung lagi, mendengar namamu tersebut indah di dalam…

Reza Fahlevi

Writing about short story, poem and perspective.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store